Oleh : Soleman pelu, S.I.P
Umat Islam selayaknya memahami keutamaan atau fadhilah dari setiap ibadah yang Allah SWT perintahkan. Menurut para ulama pemahaman terhadap keutamaan dalam melaksanakan setiap amal shaleh akan menjadi penyemengat sekaligus akan mendorong kepada peningkatan ketaqwaan seseorang. Arti Ramadan secara umum adalah bulan kesembilan dalam kalender Islam. Dan pada saat Ramadan, umat Islam akan merayakan sebuah tradisi dan menjalankan kewajiban sebagai umat muslim yaitu berpuasa.
Ramadan akan berlangsung selama 29 sampai dengan 30 hari yang ditentukan berdasarkan hilal. Arti Ramadan sendiri diambil dari bahasa Arab yaitu ramada atau ar-ramad yang memiliki arti panas yang menghanguskan atau kekeringan. Hal ini juga disangkutkan dengan Ramadan yang jatuh pada bulan kesembilan dan merupakan saat terjadinya musim panas yang sangat menyengat. Umat Islam juga diwajibkan untuk melakukan puasa dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari pada bulan ini. Meskipun di bulan Ramadan bertepatan dengan musim panas, umat Muslim harus tetap berpuasa karena ini merupakan sebuah kewajiban.
Selain itu, arti Ramadan yang merupakan panas juga diibaratkan sebagai matahari yang begitu panas dan mampu menghapus dosa-dosa umat muslim. Umat muslim percaya bahwa jika melakukan amal ibadah dan juga puasa di bulan Ramadan, maka dosa-dosa akan diampuni. Di dalam Islam, arti Ramadan juga sangat mulia dan memiliki arti yang sangat istimewa karena terjadi berbagai peristiwa penting. Beberapa hal penting mengenai arti Ramadan bagi umat Islam. Hal itu juga seperti apa yang di riwayatkan dalam Al-qur’an.
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa. (Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah ia berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebaikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui." (QS-Al-Baqarah 183-184).
Tetapi banyak yang merasa, sampai tahap tertentu, banyak orang berpuasa hanya untuk menjalankan rutinitas tanpa ada nilai transformatif bagi pengembangan keagamaan mereka. Sehingga akhirnya dampak puasa sulit ditumbuhkan dalam kehidupan konkret.
Setiap tahun Ramadhan datang, setiap tahun pula umat Islam berpuasa. Namun kezaliman tetap merajalela, kejahatan terus mengalami peningkatan, kekerasan menjadi menu sehari-hari, nilai-nilai kemanusian semakin hilang dalam kehidupan sehari-hari, sesama manusia saling serang, dan sesama manusia saling bunuh.
Padahal, Ramadhan mengandung makna yang penting dan refleksi khusus bagi pribadi dan masyarakat. Dengan berpuasa, seorang muslim diharapkan dapat membebaskan keinginannya dari belenggu hawa nafsu dan mampu mengontrol kehidupan sehari-hari.
Bulan suci Ramadhan merupakan kesempatan bagi setiap hamba Allah untuk lebih meningkatkan ketakwaan, dikarenakan bulan ini memiliki beberapa keutamaan atau manfaat seperti berikut ini:
Ramadhan di maknai sebagai bulan dimana turunya Al-Quran
Ramadhan merupakan syahrul Quran (bulan Al-Quran). Diturunkannya Al-Quran pada bulan Ramadhan menjadi bukti nyata atas kemuliaan dan keutamaan bulan Ramadhan. Allah Swt berfirman yang artinya : “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang didalamnya diturunkan Al-Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan petunjuk tersebut dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185). Di ayat lain Allah Swt berfirman yang artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam qadar” (QS. Al-Qadar: 1). Dan banyak ayat lainnya yang menerangkan bahwa Al-Quran diturunkan pada bulan Ramadhan. Itu sebabnya bulan Ramadhan dijuluki dengan nama syahrul quran (bulanAl-Quran).
Bulan Ramadhan Juga Sebagai Bulan Pengampunan Dosa Maghfirah
Allah Ta’ala menyediakan Ramadhan sebagai fasilitas penghapusan dosa selama kita menjauhi dosa besar. Nabi saw bersabda yang artinya: ”Shalat lima waktu, Jumat ke Jumat dan Ramadhan ke Ramadhan menghapuskan dosa-dosa di antara masa-masa itu selama dosa-dosa besar dijauhi”. (HR. Muslim).
Melalui berbagai aktifitas ibadah di bulan Ramadhan Allah Swt menghapuskan dosa kita. Di antaranya adalah puasa Ramadhan, sebagaimana sabda Nabi Saw yang artinya : “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah Swt, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.(HR.Bukhari dan Muslim).
Begitu pula dengan melakukan shalat malam (tarawih, witir dan tahajud) pada bulan Ramadhan dapat menghapus dosa yang telah lalu, sebagaimana sabda Nabi SAW yang artinya : “Barangsiapa yang berpuasa yang melakukan qiyam Ramadhan (shalat malam) dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah Swt, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”(HR.BukharidanMuslim).
Ramadhan Pintu Surga Dibuka Pintu Neraka Ditutup
Keberkahan kemuliaan di dalam bulan Ramadhan adalah bahwa pintu-pintu surga terbuka dan pintu-pintu neraka tertutup serta syaithan-syaithan diikat. Dengan demikian, Allah Ta’ala telah memberi kesempatan kepada hamba-Nya untuk masuk surga dengan ibadah dan amal shalih yang mereka perbuat pada bulan Ramadhan. Kita patut bersyukur karena, insya Allah, “lulus” melewati bulan suci Ramadhan. Kita telah menjalankan perintah Allah dengan penuh ikhlas, kita telah berpuasa dan memperbanyak ibadah semata-mata hanya karena Allah. Kita patut pula berbahagia, karena di samping telah berhasil menabung pahala, dosa-dosa kita pun insya Allah diampuni oleh Allah SWT, sebagaimana hal ini dijamin oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya:
"Barang siapa menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan semata-mata karena Allah dan mengharap ganjaran dari pada-Nya, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu."
Sekarang muncul pertanyaan yang patut menjadi renungan kita. Bagaimana kita menyikapi hari-hari ke depan, setelah kita kembali kepada fitrah dan kesucian?
Ramadhan sebagai titik tolak kembali kepada fitrah sejati. Bahwa dari Madrasah Ramadhan kita bangun komitmen ketaatan bukan hanya untuk satu tahun ke depan, namun juga kita bangun komitmen ketaatan seumur hidup seperti ketaatan selama Ramadhan.
Rasulullah SAW banyak mengingatkan umatnya dengan sabdanya: "Qul aamantu billahi tsummastaqim-- Katakanlah aku beriman kepada Allah dan beristiqamahlah (konsistenlah).
Dari Ramadhan setidaknya kita mendapat pelajaran penting yang harus dipertahankan prestasinya dan dilestraikan dalam hidup sehari-hari, sehingga menjadi pribadi yang selalu bersih dan fitri. Pribadi yang menjaga diri dan keluarganya dari api neraka sehingga dengannya pula kelak akan lahir masyarakat yang bersih pula.
Pelajaran yang dapat kita ambil dari nilai-nilai Ramadhan adalah “Menjauhi harta yang haram”: Selama Ramadhan kita telah berpuasa dari yang halal. Maka tidak ada alasan bagi kita untuk mengambil yang haram. Mari kita perhatikan firman Allah SWT: “Katakanlah, tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertaqwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al Maidah: 100). Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa harta haram itu sebagai khobits atau kotoran yang menjijikan. Artinya, seandainya harta haram itu Allah perlihatkan berupa kotoran niscaya manusia yang berakal tidak akan mengambilnya. Karena yang khobist itu tidak akan pernah sama dengan ath-thayyib atau yang halal dan baik sekalipun jumlahnya jauh lebih sedikit.
Karena yang khobits merusak tatanan kehidupan, sementara yang thayyib menumbuhkan dan menyebarkan kebaikan. Oleh sebab itu Allah perintahkan agar bertaqwa: fattaqullah yaa ulil albaab. Taqwa tidak akan tercapai selama seseorang masih mengkonsumsi harta haram. Dengan kata lain, hanya dengan menjauhi harta haram seseorang akan sampai kepada level taqwa.
Mengingat berbagai keutamaan Ramadhan tersebut di atas, maka sangat disayangkan bila Ramadhan datang dan berlalu meninggalkan kita begitu saja, tanpa ada usaha maksimal dari kita untuk meraihnya dengan melakukan berbagai ibadah dan amal shalih. Semoga ramadhan tahun ini akan lebih baik dalam hal amalan ibadah daripada tahun-tahun sebelumnya. Ramadhan telah menjadi contoh kehidupan hakiki dan kepribadian hakiki seorang muslim sejati. Itulah rahasia mengapa Allah SWT menjadikan amalan-amalan Ramadhan sebagai tangga menuju taqwa: la’allakum tattaquun.
Itu tidak lain karena dari Ramadhan akan lahir kesadaran maksimal seorang muslim sebagai hamba Allah. Kesadaran yang menebarkan kasih sayang kepada seluruh manusia, menyelamatkan mereka dari kedzaliman dan aniaya, mengajak mereka kembali kepada Allah. Karena itulah fitrah manusia yang hakiki. Dari puasa Ramadhan yang merupakan ibadah wajib bagi setiap individu muslim ini, diharapkan tumbuh rasa persaudaraan dan rasa kemanusiaan. Bahkan, untuk meraih yang lebih utama dari bulan Ramadhan, bukan sekadar syiarnya melainkan substansi ibadah puasa yang mengajarkan kesederhanaan, kejujuran, dan kedisiplinan.
Puasa sama sekali bukan bertujuan menahan makan, minum, dan semua yang dapat dinikmati pada bulan-bulan di luar Ramadhan. Puasa bertujuan supaya jiwa manusia terlepas dari kontrol hawa nafsu dan mempersiapkan diri untuk berperan sesuai dengan penciptaannya, yaitu menjadi khalifah Allah SWT untuk mengembangkan alam semesta.
Sebagai khalifah, manusia harus bisa bersikap jujur kepada Allah, dirinya, dan kepada lingkungannya. Tanpa perlu pengontrol dan pengawas kecuali Allah SWT, kejujuran tersebut harus terwujud dalam perilakunya.
Ramadhan harus disambut dengan ibadah, ketimbang menyambutnya dengan berbagai kegiatan yang tidak berkaitan langsung dengan ibadah Ramadhan. Salah mengerti makna Ramadhan dan pengaruh lingkungan sosial yang tidak mendukung, maka nilai-nilai tinggi dan dampak positif puasa semakin berkurang, bahkan mungkin saja hilang. Yang tertinggal hanya rasa lemas, letih, lapar dan haus.
Dan, Ramadhan kali ini tampaknya akan kita lalui dalam kondisi khusus. Kondisi darurat di tengah wabah corona. Jika ada "pembatasan" dalam pelaksanaannya, semata-mata hanya dalam tataran sareat untuk kemaslahatan umat. Insya Allah, kondisi darurat ini tidak dan jangan sampai mengurangi kualitas ibadah puasa yang akan kita jalani.
Semoga kita tidak termasuk yang disabdakan Rasulllah SAW, "Banyak sekali orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapat apa-apa kecuali rasa lapar dan dahaga.
Komentar
Posting Komentar